ASAL USUL NAMA PULAU-PULAU BESAR DI INDONESIA

Nama asli Sumatera, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan cerita-cerita rakyat, adalah “Pulau Emas”. Istilah pulau ameh (bahasa Minangkabau, berarti pulau emas) kita jumpai dalam cerita Cindur Mata dari Minangkabau. Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pulau Sumatera. Seorang musafir dari Cina yang bernama I-tsing (634-713), yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya (Palembang sekarang) pada abadke-7, menyebut Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti “negeri emas”.

Dalam berbagai prasasti, Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi (“tanah emas”). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi. Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa.
Baca lebih lanjut

Asthabrata

Berasal dari kata Asto atau Hasto yang artinya delapan, kemudian Baroto yang artinya laku atau perbuatan. Jadi ASTHA BRATA atau Hasto Broto berati delapan laku atau delapan perbuatan. ASTHA BRATA terdapat dalam Sarga XXIV dari wejangan Ramayana kepada Gunawan Wibisono, juga Sri Kresna kepada Arjuna. Diterangkan bahwa seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin atau raja adalah dalam jiwanya terdapat delapan macam sifat kedewasaan atau delapan macam watak-watak delapan dewa. Kewajiban seorang pemimpin harus selalu mencerminkan sifat dan sikap:

Baca lebih lanjut

WAYANG : Kerja, Karya & Dharma Part.3/3

Buto cakil kali pertama diciptakan pada masa Sultan Agung. Sebelumnya tokoh itu tidak ada sama sekali. Biasanya mereka tampil pada adegan perang kem-bang atau perang bambangan. Pada perkem-bangannya dikenal pula Buta Rambut Geni. Konon buta ini adalah representasi londo-londo-manusia kulit berwarna yang datang dan menjadi imprealis di Nusantara (lebih lengkap lih. Sutini, Sejarah Perkembangan Kesenian Wayang, pada http://www.javapalace.com)

Sementara Punakawan, ia diamini berasal dari Jawa. Pada mitos India tokoh ini sama sekali tidak dikenal. Istilah Semar sendiri diyakini berasal dari bahasa Arab, Ismar yang berarti paku. Itulah kemudian paku orang Jawa itu dijadikan gelar oleh Keraton Surakarta, Pakubuwono (Woodward, 1999: 329). Itulah mengapa Semar seringkali dianggap sebagai representasi Nabi Jawa di luar Dewa. Ia dianggap lebih membumi dan lebih mau tahu dengan perkara Jawa dibanding dengan tokoh-tokoh (impor) lainnya. Semar dikenal juga dengan nama sang Hyang Ismaya. Ia adalah saudara Sang Hyang Manik Maya atau umum disebut Batara Guru. Semar ini juga memiliki saudara yang sifatnya berbanding terbalik dengannya, yakni Sang Hyang Tejamaya alias Tejamantri. Tejamantri atau disebut Togog oleh masyarakat Sunda, terkenal karena sifat menghambanya kepada mereka yang mampu membayar lebih (Tentang kelahiran Togog dan Semar dan mengapa mereka jelek lihat Ensiklopedi Wayang, hal. 238).
Baca lebih lanjut

WAYANG : Kerja, Karya & Dharma Part.2/3

Kilas Kisah Wayang di Jawa

Sifat Warna
Merah : Api Amarah Marah
Hitam : Bumi Aluamah Makanan
Kuning : Air Sufia Kesenangan
Putih : Udara Mutmainah Kesucian

Keempat kuda jelas dipadankan dengan empat nafsu, daya atau energi yang harus diarahkan pada satu tujuan. Nafsu empat akan berguna bagi kehidupan jika ia tidak dikacaukan hasrat penguasaan. Ia bukan hal yang patut dipertentangkan apalagi dihindarkan. Hidup nyatanya membutuhkan kekuataan dan gairah. Terkendalinya ego—yang berada di lintang empat itu— pada gilirannya akan mendorong pencapaian yang lebih tinggi lagi, yakni bersatunya: Rasa yang diwakili oleh Batara Narada; Roh-Batara Respati; Nafsu-Batara Parasu; Budi-Batara Janaka (Arjuna); dalam Diri yang hidup-Kresna (Lih. Woodward, 1999: 281, bdk. Stange,
1998: 57-58).
Baca lebih lanjut

Mengenang Sejarah Lewat Wayang

Sudamala, etos kerja dan namasmaranam, paling tidak itulah makna yang dapat dipetik dalam pementasan wayang kulit tradisi duta Gianyar, yang tampil di wantilan Taman Budaya, 15 Juni lalu. Sanggar Suara Murti yang menampilkan dalang I Made Juanda dari Sukawati Gianyar itu menyuguhkan lakon Katundung Hanoman.

Pertunjukan yang berdurasi sekitar 150 menit itu diawali dengan pertemuan Rama, Laksmana dan Sugriwa. Dalam pertemuan itu, Rama mengatakan bahwa Hanoman menolak hadiah sebagai balas jasa ikut memerangi Rahwana.

Dalam cerita dituturkan, seusai perang, Rama membagi-bagi hadiah kepada para pahlawan kera yang sangat berjasa dalam perang di Alengka. Hadiah itu tidak tanggung-tanggung. Masing-masing kera menerima bidadari dari kahyangan yang cantiknya mungkin melebihi para selebritis di dunia ini.
Baca lebih lanjut